Promosi Kesehatan Diabetes Melitus

PROMOSI KESEHATAN DIABETES MELITUS

oleh : dr.H. Supardi, Sp.PD

         Dampak pembangunan kesehatan di negara berkembang seperti di Indonesia, telah menyebabkan terjadinya pergeseran pola penyakit yang cukup meyakinkan. Penyakit infeksi berangsur berkurang, sedangkan prevalensi penyakit degeneratif seperti diabetes melitus dan penyakit jantung koroner meningkat dengan tajam.
Apakah Diabetes Melitus (DM) itu?

Pengertian
Diabetes melitus merupakan suatu kelompok penyakit matabolik yang ditandai oleh hiperglikemia akibat defek pada : 1. Kerja insulin (resistensi insulin) di hati (peningkatan produksi glukosa hepatik) dan jaringan perifer (otot dan lemak), 2. Sekresi insulin oleh beta pankreas, 3. Atau keduanya.

Ada 2 klasifikasi DM yang umum terjadi dan diderita orang yaitu :
1. DM tipe 1 ; destruksi sel β, umumnya diikuti defisiensi insulin absolut dan
2. DM tipe 2 ; bervariasi mulai dari predominan resistensi insulin dengan defisiensi insulin relatif sampai
predominan defek sekretorik dengan resistensi insulin.
Perbedaannya adalah jika DM tipe 1 karena masalah fungsi organ pankreas tidak dapat menghasilkan insulin. Jadi diabetes tipe ini berkaitan dengan kerusakan atau gangguan fungsi pankreas penghasil insulin. Sebagian besar terjadi pada orang dibawah umur 30 tahun (lebih banyak terjadi pada anak-anak dan remaja). Sedangkan DM tipe 2 karena masalah jumlah insulin yang kurang bukan karena pankreas tidak berfungsi baik. DM tipe 2 merupakan jenis diabetes yang sebagian besar diderita, khususnya orang dewasa yang berusia lebih dari 30 tahun. Namun, ada juga tipe DM yang bukan diantara keduanya namun jarang terjadi yaitu DM tipe spesifik lain dan DM gestasional.

Diagnosis
Diagnosis DM didasarkan atas pemeriksaan kadar glukosa darah. Diagnosis DM terdiri dari ; diagnosis DM, diagnosis komplikasi DM, diagnosis penyakit penyerta, pemantauan pengendalian DM. Untuk diagnosis klinis DM, umumnya dilakukan berdasar anamnesis keluhan khas DM dan keluhan tidak khas DM. Keluhan khas DM berupa poliuria, polidepsia, polifagia, penurunan berat badan yang tidak dapat dijelaskan sebabnya sedangkan keluhan tidak khas DM berupa badan terasa lemah, kesemutan, gatal, mata kabur, disfungsi ereksi pada pria, pruritus vulvae pada wanita.
Faktor Resiko DM tipe 2 :
• Usia > 45 tahun
• BB > 110% BB idaman atau IMT > 23 kg/m2
• Hipertensi (TD ≥ 140/90 mmHg)
• Riwayat DM dalam garis keturunan
• Riwayat abortus berulang, melahirkan bayi cacat, atau BB lahir bayi > 4000 gr
• Riwayat DM gestasional
• Riwayat toleransi gula terganggu (TGT) atau glukosa darah puasa terganggu (GDPT)
• Penderita penyakit jantung koroner, tuberkulosis, hipertiroidisme
• Kolesterol HDL ≤ 35 mg/dL dan atau trigliserida ≥ 250 mg/dL
Kriteria diagnostik DM dan gangguan toleransi glukosa adalah sebagai berikut ; kadar glukosa darah sewaktu > 200 mg/dL, atau kadar glukosa darah puasa > 126 mg/dL, atau kadar glukosa plasma > 200 mg/dL pada 2 jam sesudah beban glukosa 75 gram pada TTGO.

Pemeriksaan
Tindakan medis yang dilakukan pada penderita DM, diantaranya adalah pemeriksaan fisik lengkap meliputi ; fisik umum (TB, BB, tekanan darah, dan lingkar pinggang), tanda neuropati, mata (visus, lensa mata dan retina), gigi mulut, keadaan kaki (termasuk rabaan nadi kaki), kulit dan kuku. Dilanjutkan dengan pemeriksaan penunjang laboratorium meliputi ;
• Hb, leukosit, hitung jenis leukosit, laju endap darah
• Glukosa darah puasa dan 2 jam sesudah makan
• Urinalisis rutin, proteinuria 24 jam, CCT ukur, kreatinin
• SGPT, Albumin/Globulin
• Kolesterol total, kolesterol LDL, HDL, trigliserida
• Albuminuri mikro
Sedangkan pemeriksaan penunjang lain : EKG, foto toraks, funduskopi.

Promosi Kesehatan DM
Diabetes melitus dapat menyerang segala lapisan umur dan sosial ekonomi, serta berdampak negatif berupa penurunan kualitas SDM terutama akibat komplikasi menahun. Komplikasi diabetes dapat terjadi pada pembuluh darah makro misalnya penyakit jantung koroner dan stroke, dapat juga pada pembuluh darah mikro misalnya pada mata (retinopatia), pada syaraf (neuropatia), dan pada ginjal (nefropatia).
Faktor-faktor yang berperan pada peningkatan jumlah pasien DM antara lain peningkatan kemakmuran, perubahan gaya hidup, dan bertambah panjangnya usia harapan hidup. Sejak tahun 1994 diperkirakan 2 – 5 juta orang menderita DM dan jumlah tersebut akan menjadi 4 juta pada tahun 2000, dan 5 juta pada tahun 2010. Suatu jumlah yang sangat besar. Tentu saja upaya untuk mencegah dan menanggulangi DM ini harus dimulai dari sekarang. Untuk itu sangat diperlukan upaya Promosi Kesehatan yang pelaksanaannya dilakukan oleh dan bersama seluruh komponen masyarakat, termasuk swasta dan dengan dukungan pemerintah.
Ada 4 pilar utama pengelolaan DM, yaitu ; perencanaan makan, kegiatan jasmani, penggunaan obat, dan promosi kesehatan. Dalam perencanaan makanan, standar yang dianjurkan adalah makanan dengan komposisi karbohidrat 60-70%, protein 10-15%, dan lemak 20-25%. Jumlah kandungan kolesterol disarankan < 300 mg/hari. Diusahakan lemak berasal dari sumber asam lemak tidak jenuh (MUFA = Mono Unsaturated Fatty Acid) seperti alpukat, kacang-kacangan, minyak zaitun dll. dan membatasi PUFA (Poly Unsaturated Fatty Acid) seperti minyak jagung, biji bunga matahari, kacang kedelai dll dan asam lemak jenuh, seperti daging sapi, kambing, babi, keju, mentega cream, margarine dll. Kegiatan jasmani, merupakan kegiatan ragawi yang bertujuan untuk membantu kelancaran proses metabolisme dalam tubuh. Frekuensi yang dianjurkan 3-4 kali seminggu selama kurang lebih 30 menit). Prinsip yang dianut adalah kegiatan jasmani adalah ; terus menerus, teratur, ada kemajuan kekuatan, dan kemajuan ketahanan tubuh. Intervensi Farmakologis dimaksudkan untuk mengendalikan kadar glukosa dengan menggunakan obat. Obat yang umum digunakan adalah obat hipoglekimia oral (OHO), yang berfungsi untuk memicu sekresi insulin, menambah sensivitas terhadap insulin dan penghambat absorbsi glukosa. Pilar utama pengelolaan DM yang keempat adalah promosi kesehatan. Promosi kesehatan sangat penting bagi orang dengan DM. Tiga unsur penting dalam promosi kesehatan, yakni ; pemberdayaan, kemitraan dan advokasi merupakan dasar utama pengobatan dan pencegahan yang sempurna. Dengan promosi DM, diharapkan orang dengan DM dapat merawat dirinya secara mandiri. Sesuai dengan definisi WHO, Promosi Kesehatan adalah proses atau upaya pemberdayaan masyarakat untuk dapat memelihara dan meningkatkan kesehatannya.
Oleh karena DM adalah penyakit yang sifatnya kronik, maka orang dengan DM perlu mengetahui tentang penyakitnya, bagaimana cara pengobatannya dan bagaimana cara pencegahan komplikasi akut maupun kronik.
Untuk memberi pengertian bagi orang dengan DM diperlukan waktu cukup lama dan berulang-ulang. Hal ini tidak mungkin tercapai apabila penjelasan tersebut hanya dilakukan oleh dokter spesialis dalam saja, yang jumlahnya masih sangat terbatas. Dibutuhkan “pendamping dan penggerak/motivator” khusus, yang dengan keahliannya di bidang DM, dan mempunyai waktu yang cukup untuk memberikan ilmu kepada orang dengan DM. Promosi DM ini meliputi pemberian konseling mengenai perencanaan makan, perawatan dan pemeliharaan DM, mengajarkan cara penyuntikan dengan baik, mengajarkan dan membimbing pasien memantau DM-nya menghadapi keadaan sakit, dan memberi informasi mengenai kegiatan-kegiatan sosial/masyarakat DM. Untuk memudahkan proses edukasi ini, perlu dibuat berbagai macam sarana promosi berupa poster, leaflet, lembar balik, food model untuk perencanaan makan dll. Proses yang sudah berjalan dengan baik akan memperluas pengetahuan terutama mengenai pencegahan penyakit DM. Dapat dibayangkan bahwa pencegahan primer akan mengurangi biaya pengobatan, sehingga tersedia dana untuk keperluan lainnya, suatu keuntungan di masa sulit seperti sekarang ini.

Kesimpulan
Prevalensi penyakit degeneratif seperti diabetes melitus (DM), penyakit jantung koroner dll. semakin meningkat, Sehingga perlu tindakan pencegahan baik primer, sekunder, maupun tersier. Salah satu dari empat pilar dalam pengelolaan DM adalah edukasi, yang merupakan usaha promosi kesehatan untuk menanggulangi diabetes. Promosi DM bertujuan untuk memberdayakan orang dengan diabetes agar dapat memelihara dan merawat penyakitnya secara mandiri.

%d blogger menyukai ini: