logo

DAMPAK PSIKOLOGIS AKIBAT MEROKOK

Perilaku mengisap rokok adalah suatu fenomena yang unik. Mengapa ? karena mungkin hampir semua orang mengetahui bahayanya, bahkan perokok itu sendiri. Akan tetapi, perokok cenderung ingin tetap merokok.   Apabila ingin berhenti, terasa begitu sulit bagi mereka. Ketika mencoba berhenti, akan muncul lagi keinginan untuk  mengisap rokok, sampai akhirnya belum berhasil untuk berhenti total.

Berbagai penelitian tentang dampak merokok terhadap tubuh manusia telah banyak dilakukan. Ketika perilaku merokok berhubungan dengan kolestrol dalam tubuh, maka berisiko lebih tinggi terhadap penyakit jantung. Selain itu, perilaku merokok dapat mengurangi usia harapan hidup manusia beberapa tahun dan menganggu kualitas hidup di masa tua kelak. Penyakit-penyakit yang disebabkan oleh rokok juga terus meningkat, seperti kanker hati atau kanker paru-paru. Merokok juga dapat melemahkan fungsi imun tubuh manusia.

Merokok sudah dikenal sebagai faktor risiko berbagai penyakit degeneratif karena berbagai kandungannya yang berbahaya. Tetapi tahukah Anda bahwa perilaku merokok juga dapat mempengaruhi kondisi psikologis seseorang? Efek merokok terhadap mental seseorang dapat bervariasi dan tidak semua orang mengalaminya. Beberapa perokok juga mungkin sebenarnya menyadari perubahan emosi sebagai efek dari merokok, namun memilih untuk membiarkannya.

Nikotin mempengaruhi kinerja otak sehingga memicu ketergantungan, yang pada akhirnya mengubah cara seseorang  berpikir dan perilaku. Efek tersebut dapat bersifat permanen karena nikotin sangat mudah terakumulasi pada otak. Nikotin dapat diserap oleh mukosa mulut saat merokok, dan mencapai otak hanya dalam waktu 10 detik setelah dihisap. Semakin banyak nikotin, semakin kuat efek ketergantungan dan perubahan psikologis yang dialami seseorang.

Ketergantungan pada perokok juga melibatkan mekanisme lainnya yang memicu ketidakseimbangan fungsi otak. Nikotin membuat seseorang ketergantungan dengan cara memicu peningkatan hormon dopamin pada otak. Peningkatan dopamin berlebih pada perokok juga disertai dengan penurunan enzim monoamineoxidase yang berperan dalam menurunkan kadar dopamin. Tanpa enzim tersebut, kadar dopamin akan lebih sulit terkendali sehingga menyebabkan ketergantungan.

Sebagian besar perokok merasakan efek peningkatan dopamin berlebih sebagai rasa ketenangan, bahagia, atau kesenangan saat merokok. Hal ini menyebabkan seseorang menjadi kesulitan menenangkan pikirannya sendiri jika tidak mengisap rokok. Jika hal itu terjadi, maka perokok akan mencari dan menggunakan rokok tanpa henti. Tanpa disadari, perokok juga menjadi lebih agresif dan mudah marah saat harus menahan keinginannya untuk merokok. Hal ini tentu saja akan berpengaruh terhadap kehidupan sosial perokok yang justru membuat stress dan memicu perubahan perilaku yang lebih parah.

Terlepas dari segala dampak buruk sebuah rokok, perokok meyakini ada dampak baik yang dirasakan ketika mengisap rokok. Mereka cenderung mencari rokok ketika merasa stres, cemas, atau menghadapi masalah yang terjadi. Bagi sebagian perokok, rokok juga diyakini sebagai media yang memudahkan produktivitas dalam bekerja. Baik dalam arti mencari ide, inspirasi, atau memperlancar proses terbentuknya suatu karya.

Mengingat perilaku merokok menimbulkan dampak psikologis yang sangat besar bahkan juga mempengaruhi kesehatan dan menyebabkan kematian. Maka perlu dilakukannya psikoterapi berhenti merokok pada orang-orang yang mengalami kecanduan rokok. Penting sekali bagi perokok untuk mengetahui cara menghilangkan kebiasaan buruk ini dan mengganti dengan hal yang lebih bermanfaat. Namun, harus diingat bahwa berbagai upaya di masa mendatang perlu untuk memberikan perhatian khusus terhadap beragam faktor psikologis yang membuat orang-orang tetap bertahan dengan kebiasaan merokoknya, meskipun mengetahui dampaknya bagi kesehatan yang sangat berbahaya. Oleh karena itu, terapi secara psikologis / psikoterapi sangat penting untuk diberikan dalam rangka mengatasi beragam faktor psikologis yang membuat seseorang kembali untuk merokok.

 

Daftar Pustaka

Jaya, M. (2009). Pembunuh berbahaya itu bernama rokok. Yogyakarta: Penerbit Riz’ma.

Sarafino, E. P., & Smith, T. W. (2014). Health psychology: Biopsychosocial interactions. John Wiley & Sons.

Taylor, S. E. (2006). Health psychology. Tata McGraw-Hill Education.

Zainuddin, A. F. (2014). Spiritual emotional freedom technique (SEFT) for healing + success, happiness + greatness. Jakarta: Afzan Publishing.

 

(Zuhdan Aftrinanto, S.Psi., M.Psi., Psikolog)


%d bloggers like this: