logo

KARTINI RSUD CILACAP

Dasar surat Sekretariat Daerah tanggal 16 April 2019 perihal Peringatan Hari Kartini ke-140 Tingkat Kabupaten Cilacap, guna mengenang jasa-jasa RA. Kartini seluruh karyawati RSUD Cilacap mengenakan pakaian KebayaKartini.

Apel pagi bersama hari kamis tanggal 25 April 2019 di lingkungan RSUD Cilacap dipimpin oleh Pujiwati, S.Kep. NS sebagai pembina apel, beliau menceritakan sedikit sejarah lahirnya Kartini.

”Raden Adjeng Kartini berasal dari kalangan priyayi atau kelas bangsawan Jawa. Ia merupakan putri dari Raden Mas Adipati Ario Sosroningrat, seorang patih yang diangkat menjadi bupati Jepara. Ibunya bernama M.A. Ngasirah. Ayah Kartini pada mulanya adalah seorang wedana di Mayong. Peraturan kolonial waktu itu mengharuskan seorang bupati beristerikan seorang bangsawan. Karena M.A. Ngasirah bukanlah bangsawan tinggi  maka ayahnya menikah lagi dengan Raden Adjeng Woerjan (Moerjam), keturunan langsung Raja Madura. Setelah perkawinan itu, maka ayah Kartini diangkat menjadi bupati di Jepara menggantikan kedudukan ayah kandung R.A. Woerjan, R.A.A. Tjitrowikromo. Kartini adalah anak ke-5 dari 11 bersaudara kandung dan tiri dari kesemua saudara sekandung. Sampai usia 12 tahun, Kartini diperbolehkan bersekolah, Tetapi setelah usia 12 tahun, ia harus tinggal di rumah karena sudah bisa dipingit. Karena Kartini bisa berbahasa Belanda, maka di rumah ia mulai belajar sendiri dan menulis surat kepada teman-temannya. Dari buku-buku, koran, dan majalah Eropa, Kartini tertarik pada kemajuan berpikir perempuan Eropa. Timbul keinginannya untuk memajukan perempuan pribumi, karena ia melihat bahwa perempuan pribumi berada pada status sosial yang rendah. Dia ingin wanita memiliki kebebasan menuntut ilmu dan belajar. Oleh orangtuanya, Kartini dijodohkan dengan bupati Rembang, K.R.M. Adipati Ario Singgih Djojo Adhiningrat, yang sudah pernah memiliki tiga istri. Kartini menikah pada tanggal 12 November 1903. Suaminya mengerti keinginan Kartini dan Kartini diberi kebebasan dan didukung mendirikan sekolah wanita di sebelah timur pintu gerbang kompleks kantor kabupaten Rembang, atau di sebuah bangunan yang kini digunakan sebagai Gedung Pramuka. Anak pertama dan sekaligus terakhirnya, Soesalit Djojoadhiningrat, lahir pada tanggal 13 September 1904. Beberapa hari kemudian, 17 September 1904, Kartini meninggal pada usia 25 tahun. Kartini dimakamkan di Desa Bulu, Kecamatan Bulu, Rembang.”.

Dalam apel pagi tersebut Pujiwati, S.Kep, NS mengajak pada seluruh perempuan untuk tetap semangat, terus berkarya, gapai cita-cita setinggi langit, karena sudah banyak perempuan Indonesia yang jadi menteri, jadi para pemimpin, bahkan Presiden Indonesia juga pernah dipimpin seorang perempuan, Belajar dari sejarah untuk kehidupan Yang lebih baik, ilmu pengetahuan yang terus berkembang. Selamat Hari Kartini…!!!

 

 

(Hanafi Masyhud, SKM, M.Kes / Giat Gunandar)


%d bloggers like this: